Sabtu, 02 April 2011

IGAUANKU

Entah mengapa, tiba-tiba keinginan itu terasa begitu kuat. Semakin hari, ia bertambah liar menjalar. Mengisi setiap denyut nadiku, bahkan sampai ketika aku memejamkan mata barang sejenak. Ingin itu menyelinap diam-diam dalam mimpiku, tanpa proses ijin yang rumit seperti ketika hendak memasuki istana negara. Ia bahkan dengan mudahnya, menghipnotisku untuk selalu menggumam, menyebutnya dalam igauku. Entahlah, tapi hatiku tak keberatan.

Kamu, adalah seorang yang sangat dekat denganku. Aku merasa kita memiliki tulang yang sama. Kamu orang yang pertama kali aku lihat ketika aku terbangun dari lelapku. Kamu orang yang terakhir ditangkap oleh retina mataku sebelum ia istirahat dari kerjanya seharian. Kamu selalu mendengarku mengigau, setiap malam. Telingamu begitu tajam, walau matamu terpejam. Meski aku tak sadar dalam igauku, tapi aku tahu bahwa kamu selalu mendengarnya. Paginya kamu selalu menyapaku dengan kalimat yang sama, “Semalam mengigau lagi.”

Aku hanya tersenyum mendengar sapaan yang sama, tak merasa jenuh, bukankah setiap pagi ayam selalu berkokok dengan nada yang sama? Aku begitu bahagia dengan mimpiku semalam yang membuatku selalu mengigau. Tapi dari raut wajahmu, kamu mengatakan bahwa kamu bosan.

“Aku akan selalu mengigau selama ingin itu belum terpenuhi. Aku yakin, ia akan selalu menghantuiku, menari sesuka hati di mimpiku, dan setiap malam akan menjadi sebuah lagu yang mengiringi tidurmu.”

“Ah, ia selalu membangunkanku. Lebih berisik dari suara tangisan bayi di keheningan malam.”

“Itu pilihanmu. Sudah berkali-kali aku memintamu untuk memenuhi keinginanku tapi kamu selalu memiliki senjata untuk menepis inginku. Setiap pagi kamu mengkongkang pistolmu, dan peluru-pelurumu menghancurleburkan mimpi itu.”

“Ah, persetan dengan pilihan. Enyahkanlah inginmu itu.”

“Tidak. Ia tak akan bisa enyah selama kamu belum membayar apa yang kumau. Igau itu akan menggerogoti tubuhmu yang menjadi insomnia.”

“Shit!!!… Itu hanya igauan. Aku tak ingin peduli.”

Setiap pagi, sapaan yang selalu sama itu akan berujung perdebatan yang juga selalu sama, yang membuat kamu dan aku bertengkar. Pada akhirnya, dengan adegan yang sama kamu akan meninggalkanku dan membanting daun pintu begitu kerasnya. Kamu menghilang, tak pulang seharian, namun ketika larut malam karena aku tahu kamu masih ingin dalam pelukku. Kamu masih ingin menikmati tubuhku yang katamu selalu kau cintai.

Aku tahu, aku keras kepala. Tapi ingin ini sudah berakar lama, ia yang selalu merasuki jiwaku untuk selalu menciptakan pertengkaranku denganmu. Aku kadang menyesali pertengkaran ini. Terkadang juga aku takut kau tak akan kembali. Tapi kamu telah banyak bersilat lidah selama ini. Aku yang menyesal, tapi ingin itu yang selalu memberontak hingga aku seperti orang kesurupan. Aku meludahi wajahmu, aku membakar semua gambar wajahmu yang selalu menampakkan senyum palsu, juga cinta palsu. Aku berteriak-teriak mengumpat, mengeluarkan semua serapah di hadapanmu. Tak ingat lagi bahwa aku pernah mencintaimu. Tak ingat lagi akan kata-kata manismu yang akhirnya selalu membuatku mengulum bibirmu.

Aku teringat saat pertama kali keinginan itu mencoba untuk berdialog denganmu. Saat itu kita berada di sebuah café tempat biasa kita bertemu. Café yang cocok untuk para remaja yang sedang kasmaran seperti kita. Suasana yang romantis dengan diiringi lagu barat yang beraliran mellow, hidangan yang membuat lidah ketagihan, serta pendingin ruangan yang membuat para pelanggannya betah untuk berlama-lama. Seperti kita, apalagi di luar sana sang surya sedang menampakkan amarahnya tak lagi bersahabat dengan manusia. Mungkin karena tingkah manusia yang membuatnya mengganas seperti itu.

Aku masih ingat sekali, saat itu kita sedang menikmati eskrim kesukaanku. Sebenarnya dulu sebelum mengenalku kamu tak terlalu suka makan eskrim. Tapi hobyku yang satu ini mempengaruhimu. Aku memesan rasa coklat, kamu vanilla. Aku minta disuapi eskrim punyamu dengan manja, begitu juga kamu. Kita jadi seperti sepasang pengantin di atas pelaminan yang saling menyuapi mengikuti adat jawa. Kita tertawa riang ketika bibir kita jadi belepotan karena tangan kita menyengaja agar eskrim itu melumuri seluruh bibir kita. Dan pasti setelah itu kamu akan menjilati bibirku yang belepotan, membersihkannya dengan lidahmu. Begitu juga aku.

Dan aku masih ingat, ketika semua itu telah usai. Aku menggenggam erat tanganmu, seakan ingin menguatkanmu. Aku tahu bahwa keinginan itu akan memulai untuk berdialog denganmu. Aku khawatir ia akan menghantammu bagai suara petir yang menggelegar dan membuatmu goyah. Aku menggenggammu lebih erat.

“My honey, do you love me?” aku menatap matamu begitu dalam. Menelusurinya, mencari jawaban di sana.

“Mengapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Kamu meragukan cintaku selama ini?” katamu dengan nada agak tinggi dan kemudian kau lepaskan genggamanku. Memang selama ini tak pernah ada kalimat tanya seperti yang barusan aku ajukan. Selama ini kita saling percaya, dan menyampaikan bahasa cinta lewat malam-malam yang selalu terasa berpurnama. Malam yang terasa hanya milik kit berdua.

“Bukan begitu maksudku. Aku cuma takut kalau kamu meninggalkanku.”

“Tidak akan, sayang.” Ucapnya agak lembut.

“Kalau begitu berjanjilah kamu akan menikahiku.”

Kamu tak berani melihat mataku, takut kalau aku melihat keraguan di matamu. Kamu lebih memilih untuk mengalihkan pandanganmu ke arah pepohonan di luar yang sebagian daunnya tampak menguning, sebagian lainnya kering dan kemudian berjatuhan tertiup angin.

“Aku tak bisa berjanji.” Katamu dengan suara agak parau.

“Mengapa? Bukankah kamu sangat mencintaiku?” sergahku.

“Iya, aku akan mengusahakannya.”

Malam setelah keinginan itu berdialog denganmu yang berujung ketidakpastian itu, terasa sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya yang kita lalui bersama. Setiap malam setelah percakapan antara kamu dan keinginan itu, aku selalu mengigau. Keinginan itu selalu hadir lewat mimpi-mimpiku, mengusik tidurmu. Membuatmu terkena sindrom insomnia. Mungkin ia akan berhenti setelah ada kepastian untuknya. Dan kepastian itu ada ditanganmu, kepastian itu pilihanmu.

Awal mulanya kamu menghiraukan igauanku. Malam pertama, kedua, ketiga. Kamu tak merasa terusik.

“Ah, mungkin itu hanya karena kecapekan. Nanti juga hilang.” Batinmu menghibur diri, ketika kamu mulai merasa agak terganggu di hari keempat.

Ternyata igauan itu tak hilang juga, bahkan sampai hari sering berganti. Sejak saat itulah kamu sering menyapaku di pagi hari dengan sapaan yang sama “semalam mengigau lagi” seperti suara kokok ayam yang juga selalu sama ketika fajar menyingsing. Sapaan yang sama, yang selalu berujung dengan pertengkaran yang sama.

“Sudahlah, aku muak dengan igaumu itu.” Katamu di salah satu pertengkaran setelah sapaan pagi yang selalu sama. Entah itu pertengkaran di hari yang ke berapa, aku tak ingat.

“Ia ada karena kamu yang membuatnya ada. Kamu yang memanggilnya untuk masuk ke dalam mimpimu. Bukankah aku sudah bilang dari dulu kalau aku tak bisa berjanji.”

“Justru karena kamu tak bisa berjanji itulah.”

“Aku mencintaimu, tapi sulit untuk menikahimu. Dari awal kita bertemu kamu kan sudah tahu kalau aku sudah berkeluarga. Ditambah lagi, karirku sedang mencapai puncak tertinggi Himalaya. Namaku sedang dielu-elukan oleh orang-orang yang mau dibodohi di luar sana. Lalu, apa kata dunia kalau seorang yang menjadi idola, yang selalu mereka hujani dengan sanjungan dan pujian ternyata menikah lagi dengan salah seorang mantan pelacur.”

Plakkk… tiba-tiba telapak tanganku telah mendarat di pipinya. Ia meringis merasakan ruas-ruas jariku yang masih tertinggal di sana.

“Shitt!!! Dasar laki-laki buaya. Persetan dengan karirmu. Kamu tahu? Keinginan itu selalu hadir karena ia sangat butuh kepastian. Aku sedang hamil, mengandung anakmu.” Jeritku, karena aku mulai meradang.

“Itu bukan anakku. Mungkin itu hasil kamu melacur di tempat lain.”

“Kurang ajar. Aku sudah berhenti melacur semenjak mengenalmu karena aku mencintaimu.”

“Aku hanya mencintai tubuhmu.”

Pyaaarrr…. Aku membanting frame yang berisikan photoku yang sedang berciuman denganmu. Aku semakin membenci episode yang sedang kulakoni saat ini.

“Gugurkan saja.” Katamu tanpa ada beban seraya melayangkan secarik cek dan selanjutnya kamu melenggang pergi, tanpa membanting daun pintu.

***

Beberapa malam kamu tak kembali. Mungkin karena kamu tak lagi mencintai tubuhku. Atau mungkin karena ada seorang bocah yang mulai tumbuh dalam janinku, hasil sumbangan spermamu di malam-malam itu. Atau mungkin kamu takut untuk mendengar igauanku yang selalu minta dipenuhi. Atau mungkin kalaupun akhirnya igauan itu telah berhenti karena kamu memenuhinya, kamu takut mendengar tangisan bocah ini di setiap pertengahan malam. Bayi tak berdosa yang menangis minta susu, atau karena mengompol. Mungkin saja.

Malam semakin larut. Aku galau dengan beberapa kemungkinan yang memenuhi benakku. Aku mengelus-elus perutku. Tiba-tiba aku mendengar bel apartemenku berbunyi. Aku beranjak membukanya. Dan kudapati dirimu berdiri tepat di depanku.

“Oh, kamu. Mau menghinaku lagi?” sambutku dengan nada ketus.

“Aku menyesali kesalahanku. Maafkan aku.”

“Semudah itukah?”

“Aku akan menikahimu. Biarkan aku masuk. Aku merindukanmu.” Belum sempat aku mempersilahkan, kamu telah mengisolasi mulutku dengan kecupanmu hingga aku tak bisa berkata-kata. Kamu menutup pintu apartemenku dengan tendangan kakimu. Kamu merebahkan tubuhku di atas tempat tidur yang telah beberapa malam kita lewatkan. Tanganmu meraih saklar lampu, mematikannya. Sesuatu yang tak pernah kamu lakukan setiap kita bercinta. Biasanya kau biarkan cahaya-cahaya itu menyala. ‘Biar tampak seperti istana yang megah dipenuhi gemerlap lampu’, katamu suatu waktu.

Kamu mematikan semua cahaya. Hanya ada sinar bulan yang menyusup dari celah jendela, seakan malu untuk menyaksikan kita bercumbu. Awalnya aku mengira, mungkin kamu ingin suasana yang romantis untuk babak kali ini. Tak ada yang mengusik. Tak ada suara, kecuali hembusan nafas kita. Aku tersenyum karena perkiraanku. Namun sejenak, hembusan nafasku berhenti. Kamu membunuhku.

11: 24 PM

Ngaliyan, 30 Maret 2011

Tercipta untuk para kaum hawa…

Senin, 28 Maret 2011

CERITA BERSAMA LINTANG

Lintang semakin erat memelukku, setelah ia menciumi setiap helai rambutku. Aku bisa merasakan detakan jantungnya yang sarat akan kesepian ketika telingaku menempel tepat di dadanya. Bibirnya menelan setiap kata, tapi cengkeraman tangannya tetap membuatku terperangkap. Ia tak ingin melepasku. Sakit sebenarnya, dan aku hanya bisa bernafas pelan-pelan. Namun ketika aku melihat tatapan matanya, ada ketakutan di sana yang tak ingin ia ungkapkan atau mungkin belum saatnya. Dan aku rela saja memendam sakit ini dan membiarkannya untuk tetap mendekapku. Aku tak berani bertanya ketika ia belum bersedia untuk berkata-kata. Aku hanya bisa mencoba untuk mencari-cari jawaban itu sendiri, melalui detak jantungnya yang menembus ke ulu hatiku. Belum sempat aku mencarinya, Lintang membuka kesunyian.

“Apa yang sedang kamu cari?” katanya dengan suara datar.

“Mencari sesuatu yang kau sembunyikan di balik matamu.” Kemudian ia melepaskan pelukannya, meninggalkan aku yang masih terbaring di rerumputan. Lintang melangkahkan kakinya, menoleh kanan-kiri mencari sesuatu hingga akhirnya ia berhenti di samping genangan air sisa hujan yang baru saja berhenti. Ia bercermin, melihat wajahnya. Bukan, lebih tepatnya ia ingin melihat apa yang sebenarnya aku cari di dalam matanya. Aku mendekatinya.

“Apa yang kamu cari?” aku baru berani bertanya karena aku tak akan berani bertanya sebelum ia bersedia untuk berkata-kata.

“Mencari apa yang kamu cari. Mana? Aku tak menemukan sesuatu di mataku. Hanya ada warna putih dan bulatan biru di tengahnya. Bahkan tak ada lagi tempat untuk menyembunyikan sesuatu di mataku. Terlalu sempit.” Katanya ketika ia melihat bayangan dirinya.

“Mungkin kamu yang tak mau jujur pada dirimu sendiri. Ketika kamu bercermin di air itu, kamu melihat bayangan matamu dengan matamu sendiri. Coba sini, lihat mataku.” Kedua telapak tanganku memegang pipinya untuk mengalihkan pandangannya ke hadapanku.

“Biar mataku yang melihat matamu.” Malam mengikuti apa yang kukata, dan ia mulai menatap mataku. Tetapi, sejenak ia membuang jauh tatapan matanya, tak lagi menatap mataku.

“Mengapa?” aku terheran.

“Aku takut.”

“Mengapa?” tanyaku lagi.

“Entahlah. Sudahlah, tak usah lagi kamu mencarinya. Aku takut jika nanti kamu menemukannya.”

“Memangnya kenapa kalau akhirnya aku menemukannya? Bahkan aku ingin. Apa kamu sudah tak lagi percaya padaku?”

“Bukan begitu, tapi...”

“Ssssttttttt.....” kuletakkan jari telunjukku tepat di mulutnya. “Sudahlah, ijinkan aku menemukannya. Genggamlah tanganku erat dan tataplah mataku dalam-dalam.” Sekali lagi, Lintang menuruti apa kataku. Ia mulai menatap mataku lagi, dan ia menggenggam tanganku semakin kencang. Sakit sebenarnya rasanya, tapi aku rela.

“Aku berjanji, aku akan menjaganya ketika nanti aku menemukannya.” Bisikku lirih namun terdengar begitu jelas dalam keheningan.

Lintang begitu dalam menatap mataku, tanpa berkedip. Lama sekali, aku dan malam saling beradu pandang. Semakin lama, dan aku sebentar lagi akan menemukan apa yang aku cari. Aku sudah melihatnya akan keluar dari sudut matanya. Butiran-butiran yang indah itu, seperti mutiara-mutiara di lautan.

“Jangan takut untuk mengeluarkannya.” Bisikku lagi. Lintang semakin dan semakin dalam menatapku. Dan sedetik kemudian, butiran itu jatuh ke rerumputan. Satu, dua, tiga mereka berjatuhan dan berkilau terkena sinar rembulan.

“Mereka sudah keluar, kalau masih ada jangan takut untuk mengeluarkannya lagi.” Lintang pun mulai tak takut untuk membiarkan mutiara-mutiara itu jatuh berhamburan di bawah kakiku. Butiran itu semakin berhamburan, berserakan di sekitar kakiku dan kaki Lintang.

Lintang masih menatapku, meski butiran itu tak lagi berjatuhan. Entah ia ingin menjatuhkannya lagi atau karena sudah terlalu nyaman menatap mataku. Kami pun masih beradu pandang, dan aku melihat ada cahaya yang berbinar di matanya. Tak seperti tadi yang tampak kelam dan suram. Mungkin cahaya itu berasal dari tempat penampungan butiran-butiran mutiara yang telah berjatuhan.

“Hei, mereka sudah berhenti keluar. Kamu masih ingin menatap mataku seperti ini?” tanyaku setengah berbisik.

“Uh”. Lintang terkejut mendengar perkataanku seakan baru bangun dari ketidak sadarannya.

“Kok mereka bisa keluar? Kamu menghipnotisku ya?”

“Sedikit.” Kataku sambil mengerlingkan mataku. “Tapi sebenarnya kamu juga ingin mengeluarannya.”

@********@

Aku dan Lintang mengubah posisi duduk, tak lagi saling berhadapan. Lintang duduk tepat di sampingku dan tangannya masih menggenggam tanganku tapi tak begitu erat seperti tadi. Kami sama-sama mendongakkan kepala kami, memandang wajah bulan yang putih dan bersinar. Kebetulan bulan sedang menampakkan keseluruhan wajahnya tepat di pertengahan bulan menurut perhitungan jawa.

“Emmm, maaf. Aku tahu, tadi pasti sakit sekali ketika aku memelukmu. Itu karena aku merasakan sakit menahan butiran-butiran ini. Ternyata berat juga kalau dipaksakan untuk tetap menyembunyikannya. Tapi tadi aku juga takut untuk mengeluarkannya. Aku takut dibilang lemah karena tak mampu menahannya. Butiran-butiran itu kan nantinya menjadi mutiara yang biasanya dipakai oleh kaum perempuan untuk berbagai pernak-pernik. Disulap menjadi gelang ataupun kalung. Jadi yang berhak mengeluarkannya hanyalah para perempuan. Sedangkan aku kan laki-laki. Aku merasa malu untuk mengeluarkannya.”

“Hei, kaum laki-laki tidak diciptakan Tuhan untuk menjadi selalu kuat. Kalau kian lama, butiran yang disembunyikan akan semakin banyak dan pastinya bertambah berat. Suatu saat pasti tidak kuat juga. Lagian apa salahnya kalau dikeluarkan? Lihatlah.” Kataku sambil mengambil segenggam butiran yang dekat dengan kakiku.

“Lihatlah Lintang, mereka sangat indah. Kalau kamu tak mau, biar buat aku saja. Nanti kususun menjadi sesuatu yang lebih indah.” Lintang hanya tersenyum tipis melihat aku yang kegirangan dan mulai mengumpulkan mutiara-mutiara itu, memungutinya satu per satu. Dan aku begitu terpesona akan keindahannya. Tak semuanya berbentuk bulat tapi ada yang lebih indah seperti kristal, dengan warna yang berbeda pula. Semuanya tergantung dari perasaan kita ketika mengeluarkannya.

Setelah berhasil mengumpulkannya, aku menaruhnya di pangkuanku, kuberi alas rok yang kupakai agar tidak berjatuhan lagi di rerumputan. Susah untuk mengumpulkannya lagi.

“Tahukah? Sebenarnya bukan hanya mutiara-mutiara ini yang kucari di matamu.”

“Lantas?”

“Lebih dari itu. Yang kucari ada di dalamnya.” Dari raut mukanya, Lintang kelihatan heran mendengar apa yang kukatakan. Dan aku hanya tersenyum melihatnya seperti itu.

“Ya sudah,sekarang lihatlah yang ini.” Kataku seraya mengambil salah satunya.

“Yang ini berwarna kelam abu-abu. Bentuknya tak beraturan. Emmm….. kamu pasti sedang berada dalam perasaan kebencian ketika mengeluarkannya. Iya kan?”

Lintang tak percaya, aku bisa menebak sesuatu yang ia sembunyikan, sesuatu yang kucari dari matanya, sesuatu yang lebih dari sekedar butiran-butiran yang mungkin tak bernilai buat orang lain, sesuatu yang ada di balik semua itu, yaitu perasaannya Lintang. Raut wajahnya menampakkan sebuah keheranan.

“Gimana? Tebakanku benar kan? Emang kamu lagi benci sama siapa?”

“Yup. Aku membenci diriku sendiri. Mau tahu kenapa?” aku hanya mengangguk seraya menunggu lanjutan cerita Lintang.

“Di antara lintang-lintang yang kerlap-kerlip malam ini, hanya aku yang paling sedikit memberikan sinar. Sinarku begitu redup. Harusnya aku bisa bersinar terang seperti mereka.”

“Hei, siapa bilang kamu tak memberikan sinarmu? Mungkin kamu tak bisa memberikan cahaya yang begitu putih dan menyilaukan mata. Tapi kamu bisa memberikan sinar biru di matamu yang penuh keteduhan. Lihatlah lintang-lintang di sana. Tak semua dari mereka memberikan putihnya. Ada juga yang berikan warna jingga. Ingatkah kamu? Tuhan menciptakan kita dengan keistimewaan sendiri-sendiri. Hanya, berikanlah yang kau miliki.”

“Iya, kamu benar.”

“So, jangan terlalu membenci dirimu. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Udah saatnya memaafkan diri kamu. Ah sudah lah. Kok jadi melankolis gini. Kita lihat butiran yang lain yuk.” Tanganku mencari-cari butiran lain yang berbeda bentuk dan warna. Kali ini berbentuk seperti mutiara yang sangat mulus. Tak ada benjolan sedikitpun. Warnanya biru lembut.

“Yang ini indah. Kayaknya kamu teringat sama sesuatu yang membuatmu terharu. Apaan tuh?”

“Sebenarnya itu sudah mau keluar sejak tadi ketika di bus kota aku bertemu dengan seorang bocah berumur sekitar lima belas tahun. Wajahnya bersih juga tampan. Perawakannya sangat cocok bila jadi tentara. Namun sayang, dia tak bisa melihat. Dari pakaian yang ia kenakan, tampaknya ia baru pulang dari sekolah. Ia duduk tepat di sampingku. Ia buka sebuah buku yang bertuliskan huruf braille. Tangannya meraba-raba, mulutnya bergerak-gerak, seperti sedang mengeja.” Lintang sejenak menghentikan ceritanya, menghela nafas. Dan aku seperti merasakan ada bocah itu duduk di sampingku, seperti yang diceritakan Lintang.

“Yang membuatku haru adalah semangatnya. Aku saja, yang dianugerahi Tuhan sepasang mata yang normal, begitu malas untuk membaca. Hampir saja tadi aku mengeluarkan butiran itu. Tapi aku malu, aku takut dibilang aneh. ”

“Kalau gitu, jangan terharu aja dong. Mulai sekarang rajin baca. Biar tambah pinter.”

“He’em nih. Seandainya, semua anak Indonesia kayak bocah tadi ya. Pasti bisa ngalahin Amerika.”

@********@

Sepertinya Lintang menyembunyikan salah satu butiran itu di saku jaketnya. Dia tersenyum sendiri mengira aku tak tahu. Padahal mataku begitu jeli melihat gerak-geriknya. Dengan cekatan, tanganku begitu cepat membuat butiran itu beralih di tanganku. Bahkan Lintang tak menyadarinya. Seperti sulap.

“Loh, kok sudah di tanganmu? Kamu menghipnotisku lagi ya?”

“Kenapa disembunyiin?” Lintang malah terkekeh.

“Aku malu kalau kamu tahu. Tapi ya sudahlah. Kamu memang paling mahir memancingku. Itu tadi karena aku sedih setelah kehilangan kelinci kesayanganku. Mati ketabrak mobil tadi pagi.”

“Hahaha…” aku tak bisa menahan tawa. Ternyata seorang Lintang penyayang binatang.

“Eh, jangan salah ya. Ada yang bilang orang bisa masuk surga gara-gara hewan loh.” Kata Lintang membela dirinya

“Iya deh, percaya. Seratus persen malah.” Tiba-tiba mataku melihat sesuatu yang berkilau di kejauhan sana. Masih di rerumputan. Mungkin tadi terlewatkan. Aku pun beranjak, mengambilnya. Kilaunya lebih mencorong dibanding butiran-butiran yang telah kukumpulkan tadi. Ia seperti kristal. Warnanya tampak seperti pelangi ketika terkena sinar bulan, mejikuhibiniu. Mengagumkan.

“Lintang, lihatlah. Ini paling indah.” Teriakku sambil mendekatinya.

“Dari tadi kamu selalu tepat menebak apa yang di balik butiran-butiran itu. Jangan-jangan kamu paranormal ya?” kata Lintang ketika aku telah berada di hadapannya. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.

“Kamu sedang jatuh cinta kan?” aku juga merasakannya, batinku. Aku berharap Lintang mengangguk dan mengatakan bahwa aku adalah cintanya. Ayo Lintang, katakanlah bahwa kamu mencintaiku. Katakan bahwa kamu akan selalu menggenggam tanganku erat, kataku dalam hati.

“Aku memang sedang jatuh cinta. Kamu pasti tahu dengan siapa aku jatuh cinta.”

“Siapa? Aku tak tahu.”

“Emmm…. Aku mencintai Wulan.” Kata Lintang setengah berbisik, namun kedengaran seperti suara meriam yang baru diledakkan.

Aku tersentak mendengar pengakuan Lintang, dan tanpa kusadari ternyata aku telah berlari meninggalkan Lintang. Aku bersembunyi di balik pohon akasia yang tak lagi berdaun. Aku mengeluarkan butiran yang hampir mirip dengan yang dikeluarkan Lintang tadi. Tapi bedanya, butiran yang seperti kristal ini, retak di dalamnya. Tak lagi terlihat indah.

“Maaf Lintang, kalau aku mencintaimu. Mungkin memang tepat jika kamu bersanding dengan Wulan. Lintang dan Wulan, Bintang dan Bulan. Hemmm… pasangan yang cocok, hahaha.” Aku bergumam, menertawakan diriku sendiri.

My beloved green house,

Di periode jingga, 27 Maret 2011

Buad Lintang yang mencintai Wulan

Senin, 21 Februari 2011

BUKAN KELUARGA CEMARA

Aku memilih untuk tetap di sini ketika teman-temanku mengajak pulang. Jam kuliah terakhir sebenarnya sudah selesai sejak dua jam yang lalu. Tapi seperti biasa, Icol teman sekelasku yang kebetulan juga menjadi ketua LPM Idea, sebuah lembaga pers di kampus kami menginstruksikan untuk briefing mengenai majalah yang akan diterbitkan semester ini. Tak terasa dua jam sangatlah cepat untuk ngobrol ringan di bawah beringin besar yang telah lama berdiri kokoh, mungkin seumuran dengan umur kakek-nenek kami. Satu persatu, teman-temanku berpamitan termasuk Icol. Sebelum berpamitan ia sempat mengajakku pulang bareng dia. Tapi aku menolaknya.

Aku masih duduk di bangku panjang, di bawah daun beringin yang memayungiku. Aku merasakan ia meliuk-liuk, seakan ingin bertanya padaku. Mempertanyakan kenapa aku masih di sini untuk menemaninya, padahal sehari-harinya pohon beringin itu akan merasakan sepi begitu sore menjelang karena para mahasiswa sudah pada meninggalkan kampus. Aku tetap membisu, mengangguk pelan karena iringan music yang kudengar lewat headsetku, dan sesekali bibir tipisku melantunkan lirik lagu dengan suara yang begitu lirih hingga tak sampai mengalahkan kicauan burung yang sedang membuat sarang di ranting-ranting beringin. Burung berkicau menandakan keriangannya, namun aku bersenandung membawa lara. Aku tak tahu harus mengadukan laraku ini pada siapa. Aku sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap siapa pun setelah trauma yang kualami beberapa waktu silam, ketika seorang sahabat mengkhianatiku. Untuk sore ini, mungkin aku cukup berterima kasih kepada angin yang memainkan rambutku, hingga aku merasakan hadirnya. Aku cukup berterima kasih kepada beringin karena telah menganggap aku di sini untuk menemaninya. Padahal, justru aku lah yang butuh teman. Mungkin hanya pada mereka saat ini aku harus bercerita. Aku tahu, mereka akan sangat senang mendengarnya.

--- bukan keluarga cemara ---

Aku memulainya dengan kenangan masa kecilku dulu. Masa yang selalu membuatku ingin memutar waktu untuk kembali padanya. Aku hanya mengenal tawa tanpa tangis. Aku hanya mengerti bahagia tanpa sedih. Aku membayangkan keluargaku adalah keluarga cemara yang nyata seperti sinetron favoritku yang dibintangi oleh Novia Kolopaking. Keluarga sederhana yang penuh cinta, meski aku dan Nino adikku tak perlu berjualan opak seperti Euis. Kita sudah merasa cukup dengan penghasilan bapak dari gajinya mengajar sebuah sekolah swasta yang memang tak terlalu banyak. Aku dan Nino selalu diantar ke sekolah dengan sepeda tuanya yang mirip punya Ki Hajar Dewantoro, sebelum bapak pergi ke sekolah tempatnya mengajar. Ibuku, meski dari keluarga yang masih memiliki darah keturunan Keraton Kasultanan Ngayogyakarto, namun ia mampu menerima hidup yang tak semewah masa remajanya dulu. Ibuku yang kreatif tak mau menyiakan waktunya hanya duduk di rumah sebagai ibu rumah tangga tulen. Ia masih menyimpan ilmu yang ia dapati di keraton dulu. Dengan canthingnya, ibu mulai memberikan warna pada kain yang tadinya polos. Sedikit-sedikit, ibu juga menjahit kain batik yang ia hasilkan sendiri menjadi baju-baju yang tampak mahal. Ibu selalu melakukannya setiap kami berangkat ke sekolah.

Di tengah hari yang terik, masih dengan sepeda tuanya bapak menjemput aku dan Nino. Kita harus melewati sawah yang cukup panjang untuk menuju rumah. Setiap sampai di sawah, bapak selalu mengajak kami bernyanyi diiringi desauan angin siang.

“Kiri kanan kulihat saja sawah hijau semua… kiri kanan kulihat saja sawah hijau semua.” Yang selalu diikuti ledak tawa Nino yang tak tahan kugelitiki karena lirik Nino selalu tak sama denganku dan bapak. Lirik Nino selalu ‘kiri kanan kulihat saja sawah ada penunggunya’.

Kami masih menyisakan gelak tawa ketika sepeda bapak ternyata sudah sampai di depan rumah. Ibu selalu menghentikan aktifitas membatiknya, menyambut kedatangan kami. Perempuan yang cantiknya khas jawa itu mencium punggung tangan bapak yang masih berbekas kapur tulis, seraya meminta tas bapak. Aku dan Nino bergantian mencium tangan ibu.

“Waktunya makan siaaaaaaaaang…” jeritku bersamaan dengan Nino. Dan kami pun langsung balapan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang. Bapak dan ibu hanya tersenyum akan tingkah laku kami yang tak pernah berubah.

“Fina, Nino… ganti baju dulu.” Kami pun meringis dan berlari ke kamar setelah selesai menyiapkan makan siang. Aku dan Nino berlomba-lomba untuk sampai duluan di ruang tengah yang sekaligus tempat kita berkumpul untuk makan siang. Lauk yang ala kadarnya memang, namun serasa makanan di restoran karena ditambahi bumbu kebersamaan.

Perempuan yang tak pernah memakai make-up di wajahnya namun selalu tampak cantik itu adalah istri yang sangat dicintai oleh bapak, dan ibu yang sangat kusayangi begitu juga Nino. Setiap jam Sembilan malam, ibu selalu meninabobokkan kami karena tak kunjung terlelap. Kadang ibu menceritakan tentang kejeniusan Einstein yang selalu membawa kami pada mimpi untuk menjadi sepertinya. Setelah kami terlelap, ibu beranjak ke dapur untuk menyeduh kopi buat bapak. Aku tahu ini, karena suatu hari aku pernah hanya pura-pura terlelap dan melihat apa yang dilakukan ibu. Ibu menyuguhkan secangkir kopi di samping bapak yang sedang membuat tulisan untuk dikirim ke salah satu koran harian di kota kami. Selanjutnya, ia akan duduk di sebelah bapak dengan aktifitas merajutnya. Istri yang romantis, pikirku. Bahkan aku ingin menjadi istri yang sangat perhatian sepertinya kelak, ketika aku sudah punya suami.

--- bukan keluarga cemara ---

Seekor burung gereja bertengger di bukuku. Senyumku akan kenangan masa lalu pun telah diusirnya. Ia menyadarkanku bahwa aku tak lagi sedang berada di masa lalu, namun aku kini sedang duduk sendiri di bawah pohon beringin, ditemani angin dan tambah burung gereja ini. Aku berada di masa kini. Dan ketika aku menyadarinya, air mataku menetes perlahan. Ada sebuah kerinduan yang mengendap di asinnya air mataku. Kerinduan pada ibu yang dulu.

---bukan keluarga cemara---

Aku tahu, hari ini hari ibu. Semua orang update status di facebook selalu dengan judul ibu, pengorbanan ibu, aku cinta ibu, dan seterusnya. Semua teman-teman di kampus menyebar setangkai bunga untuk kaum perempuan para calon ibu. Semuanya bahagia. Sedang aku, aku bahkan sudah lupa sosok ibu karena aku memang ingin melupakannya. Burung gereja yang tadi bertengger di bukuku, kini mematuk-matuk sepatuku. Mungkin ia sudah tak sabar ingin mendengar ceritaku.

“Iya, aku akan menceritakannya.” Bisikku lembut padanya, lebih lembut dari desauan angin yang masih menyisir rambutku.

Aku semakin tak paham dengan sikap ibu tiga tahun terakhir ini. Semenjak reuni dengan teman-temannya SMP dulu, sikap ibu berubah drastis. Ia jadi jarang sekali di rumah, bahkan kadang sampai tak pulang. Ketika aku tanya mengapa, ia selalu membawa ceritanya yang menurutku bagai mimpi memeluk bulan. Katanya ia akan menjadi milyader sebentar lagi. Ia akan mengajak bapak, aku, dan Nino bertamasya ke luar negeri. Aku hanya menggelengkan kepala, tak habis pikir.

Setelah bisnis boutiq yang dimulai dari menjahitnya dulu lancar, ibu bertemu dengan seorang teman SMPnya ketika reuni. Aku tak tahu siapa seorang teman yang bisa membuat ibu berubah begini. Seorang teman itu mengiming-imingi ibu untuk memperoleh laba yang lebih memuaskan dari hasil boutiqnya. Karena rayuannya ditambah bujukan teman-teman wanita semasa SMPnya, akhirnya ibu tertarik juga. Aku tak tahu jelas bisnis baru apa yang ditekuni ibu, tapi yang kutahu sekarang ibu mulai memperhatikan penampilannya. Ketika kulihat meja rias di kamarnya, aku menemukan alat-alat make-up serta parfum yang seharga kalangan artis. Aku pun merasa mulai kehilangan ibuku.

---bukan keluarga cemara---

Aku masih di kampus saat itu. Ibu menelponku, katanya bapak masuk rumah sakit. Aku harus segera ke sana karena ibu tak bisa menunggui bapak dengan alasan ada acara di luar berkaitan dengan bisnis barunya. Aku mendesah pelan, sedikit jengkel dengan alasan yang selalu sama. Akhirnya aku mengalah, tidak mengikuti jam kuliah berikutnya. Aku segera menuju ke salah satu rumah sakit di kota kami.

Aku melihat bapak dengan wajah pucatnya, terbaring tak berdaya. Meski begitu ia tetap memberikan senyumnya. Mungkin agar aku tak terlalu khawatir akan keadaannya.

“Gimana kabar bapak?” kataku sambil mencium tangannya.

“Nggak papa, tenang aja. Ni masih nunggu diagnosa dari dokter.”

“Ibu sudah pergi dari tadi, Pak?” bapak mengangguk pelan. “Kenapa sih sekarang ibu tu…” belum sempat kuteruskan kalimatku, bapak memotongnya.

“Nggak papa, Fin. Lagian bapak nggak terlalu parah. Toh sekarang juga sudah ada kamu di sini. Nino ke sini nggak?”

“Mungkin ntar setelah pulang sekolah.”

Berdasarkan diagnosa dokter, bapak mengalami struk dan dengan terpaksa harus berhenti dari pekerjaan mengajarnya. Keseharian bapak menjadi kelabu, namun ia selalu menyembunyikan kesedihannya. Sorot matanya merindukan murid-muridnya. Sedangkan ibu, ia semakin larut dalam dunianya yang baru. Bahkan bisnis boutiqnya juga mulai terabaikan. Meski bapak dalam keadaan tak berdaya seperti itu, ibu tak pernah lagi peduli. Yang penting ibu sudah memasak tiap pagi, dan langsung pergi. Ibu lebih sering pulang larut malam, bahkan ketika pagi hampir menjelang. Ibu tak pernah lagi berpikir bahwa bapak membutuhkannya. Aku kehilangan ibuku.

---bukan keluarga cemara---

Kebetulan komputerku lagi ngadat. Aku butuh mengetik tugasku. Aku berniat meminjam laptop ibu. Ketika aku hendak mengambilnya di kamar ibu, aku mendengar handphone ibu berdering. Aku pun menerima telepon dari seseorang yang namanya tak muncul di layar ponsel.

“Halo????”

“Gimana sayang? Kok smsku dari tadi nggak dibales? Kita jadi ketemu di mana malam ini? Aku sudah nggak sabar nih.”

Aku tak kuasa lagi menimpali suara orang di seberang sana. Air mataku mengalir deras. Aku tak jadi mengambil laptop ibu. Aku berlari ke kamarku, ingin sendiri.

Aku masih melayang dengan beribu tanda tanya di benakku. Aku masih tak yakin dengan apa yang barusan terjadi. Aku tak menyangka, ternyata di balik bisnis itu ada sesuatu yang tak kutahu dan sangat menyakitkan. Hatiku tersayat. Apakah bapak tahu hal ini? Aku tak akan memberi tahu bapak maupun Nino. Pasti mereka akan sakit hati, terlebih bapak. Aku akan menyembunyikannya dari mereka, tapi aku tak bisa menyembunyikan kemarahan ini dari ibu.

Aku mengajak ibu ketemuan di sebuah kafe setelah aku selesai kuliah. Setengah jam aku telah menunggunya. Lalu aku melihat sosoknya turun dari sebuah mobil avanza. Dia tidak sendiri. Sebelum turun dari mobil, aku melihat lelaki yang memegang setir mencium pipinya. Aku ingin menangis, tapi aku harus bisa menahannya.

Seperti yang kuharapkan, pertemuan ini berakhir dengan sebuah pertengkaran. Ibu memohon untuk kuberi maaf, dengan tangis yang sedu sedan, dengan janji tak kan mengulangi tuk kedua kali. Namun aku meninggalkannya dalam tangisan. Aku pergi, dia bukan ibuku lagi.

---bukan keluarga cemara---

Aku semakin tak peduli dengan apa pun yang dilakukan ibu. Aku memilih untuk diam. Hanya seperlunya aku bicara dengannya ketika di rumah. Aku mulai menyibukkan diriku dengan skripsiku dan lebih memperhatikan keadaan bapak. Aku lebih sering menemaninya setiap sore. Aku selalu menyuguhkan teh hangat dan membacakan koran untuknya.

“jjjam…seseggini…kkok…nniinno…” struk bapak semakin parah. Sekarang ia harus terbata-bata ketika bicara. Tanpa meneruskan kata-katanya, aku pun paham dengan apa yang dimaksud bapak.”

“Mungkin ada kegiatan ekstra di sekolah, pak. Sebentar lagi juga pulang.” Kataku menghiburnya. Aku melanjutkan membaca berita untuk bapak, namun benakku juga memikirkan tingkah Nino yang sekarang sering pulang telat, sering keluar malam, dan kadang ikut-ikutan seperti ibu yang nggak pulang ke rumah. Ketika aku pergi ke kamarnya, aku pernah menemukan puntung rokok berserakan dan sebuah foto keluarga kami yang telah robek. Apakah Nino tahu akan rahasia yang selama ini kusimpan? Tapi lagi-lagi aku tak berani memberitahukannya ke bapak, apalagi ibu. Aku hanya bisa menyimpan rahasia ini seorang diri. Aku tak tahu kepada siapa aku harus berbagi.

--- bukan keluarga cemara ---

Aku menghembuskan nafasku perlahan. Aku masih melihat burung gereja tadi, dan sekarang ia bertengger di pundakku. Aku memindahkannya ke telapak tanganku. Ternyata ia masih kecil. Apa ia juga kehilangan induknya? Apa ia juga kehilangan keluarganya?

“Aku masih memilikimu, wahai teman kecil. Aku nggak sendiri. Dan kamu tahu? Ternyata keluargaku bukanlah keluarga cemara.” Burung gereja kecil it uterus menatap mataku, seakan ia tahu kesedihanku. Aku pun membawanya pulang, meninggalkan senja yang mulai menghilang.

Ngaliyan, 20 Februari 2011

Ketika senja mulai meninggalkanku…

It was dedicated to someone who inspires this story…